![]() |
| Cr: Image generated by Gemini |
Sering kita melihat kata-kata motivasi maupun gambar yang bertuliskan"kita pikir waktu kita masih banyak? sementara teman sebaya kita sudah jalan bahkan lari, sudah merasakan gagal bahkan gulung tikar, sedangkan kita masih menunggu untuk siap."
Jujur, pertama kali melihat postingan atau caption seperti itu rasanya ditampar dengan keras.
Sebagai seseorang yang hampir tiap hari menjaga toko sambil mengembangkan website ariframdh.com, saya sangat hafal dengan perasaan 'menunggu' itu. Kita sering merasa harus punya modal besar untuk memulai, sistem sempurna, ilmu mumpuni sebelum melangkah, atau mental petarung yang hebat kalau mau mengikuti suatu kompetisi.
Padahal, kenyataannya? kesempurnaan itu tidak pernah datang.
Jebakan "Nanti Saja"
Banyak dari kita merasa sering terjebak dalam pikiran tersebut, serta berpikiran kalau waktu kita masih panjang. Kita menunda untuk melakukan hal yang sebenarnya baik untuk kita, menunda untuk memulai apa yang kita senangi, atau menunda untuk berinovasi hanya karena meunggu waktu yang "sempurna dan tepat".
Masalahnya, waktu yang tepat itu tidak pernah ada, yang ada hanyalah waktu yang kita ciptakan untuk diri sendiri.
Dulu, saat saya ingin memasukkan unsur digital ini ke dalam toko fisik, sudah pasti adanya rasa takut. Takut dianggap aneh, takut dianggap tidak korelasi antara toko fisik dan digital ini. Tapi kalau saya terus menunggu "siap", saya mungkin tidak pernah melihat bagaimana chatbot Eno yang saya kembangkan bisa membantu pembaca ataupun pelanggan produk digital saya, atau bagaimana integrasi QRIS serta transfer bisa memperluas sistem pembayaran, tidak hanya berbentuk uang tunai melainkan digital.
Gagal atapun kalah termasuk pelajaran
Ini poin yang sangat penting, gagal ataupun kalah merupakan pelajaran. Kalau kita tidak pernah gagal, berarti kita tidak pernah berani mencoba hal yang baru. Jangan takut menghadapi kegagalan ataupun kekalahan, karena itu yang mengajarkan kita terus berkembang.
Daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk merencanakan sesuatu sampai sempurna tapi tidak pernah launching, jauh lebih baik:
- Mulai dengan apa yang ada. (Punya kelebihan apa? tuangkan dan publish. Punya modal berapapun? mulai.)
- Perbaiki sambil jalan. (website ini dulunya juga jelek, kaku, bahkan masih ikut platfom gratisan blogspot.com, tidak secanggih dan efisien sekarang tapi telah saya perbaiki satu demi satu fitur di dalamnya.)
- Jangan jadi penonton. (Biarkan orang lain sibuk dengan argumen mereka sendiri, yang perlu kita benahi kita sibuk dengan eksekusi kita sendiri.)
Mulai saja sekarang, jangan nanti
Jadi, kalau kita ini sedang menunda sesuatu, entah hal yang kita gemari, atau mau melakukan bisnis, atau mulai merapikan hidup, berhentilah menunggu untuk siap.
Tidak ada orang yang benar-benar siap, kita menjadi siap setelah kita melakukannya. Jadi mulai sekarang juga, kalaupun hasilnya belum maksimal, setidaknya kita sudah berani mencoba itu sudah berada di jalur yang benar; orang-orang yang berani mencoba dan berani bermimpi.
Pada akhirnya, penyesalan terbesar bukanlah karena kita gagal, tapi karena kita tidak pernah mencoba saat kesempatan itu ada. Ini berlaku untuk segalanya, termasuk dalam mendampingi tumbuh kembang buah hati. Kita sering berpikir, 'nanti saja kalau anak sudah sekolah, baru belajar matematika serius.' Padahal, menunda membangun logika berpikir anak justru membuat mereka makin bingung saat menghadapi soal yang kompleks di kemudian hari.
Jangan tunggu anak merasa frustrasi atau benci dengan angka. Mulailah membangun fondasi logika mereka sejak dini dengan pendekatan yang menyenangkan. Melalui Worksheet anak, Math Reality bisa baca artikelnya di sana yaa, saya merancang materi yang membantu anak memahami hubungan angka secara visual, bukan sekadar menghafal. Jadikan momen sekarang sebagai investasi fondasi logika terbaik bagi mereka, karena langkah kecil yang kita ambil hari ini adalah penentu kesuksesan mereka di masa depan.
Salam Hangat,
ARIF RAMADHAN
Pengembang Website | Penulis Antologi | Praktisi Edukasi Anak

Komentar